12 Orang Tewas di Tengah Cuaca Ekstrem Eropa

Rombongan mobil hendak bergerak dari Bonneval-sur-Arc ke Bessans di pegunungan Alpen Prancis, 12 Januari 2018 (Foto: AFP/JEAN-PIERRE CLATOT)

Oslo: Sedikitnya 12 orang tewas di tengah cuaca dingin ekstrem di beberapa wilayah di Eropa. Ratusan orang juga dilaporkan terjebak di wilayah Alpine di tengah guyuran salju dan tiupan angin kencang, yang meningkatkan risiko salju longsor serta membuat beberapa penerbangan dibatalkan.

Seperti dilansir dari laman Independent, Selasa 8 Januari 2019, empat pendaki dilaporkan tewas di Norwegia. Petugas kesulitan mengevakuasi keempat jenazah karena terbatasnya jarak pandang serta salju yang terus mengguyur area.

Empat orang itu terdiri dari satu wanita asal Swedia dan tiga warga Finlandia. Mereka semua diyakini telah meninggal dunia setelah salju longsor menghantam sebuah lembah tempat mereka berada di dekat kota Tromso.

Di Austria, ratusan warga terjebak di rumah karena jalan raya terblokade salju. Di beberapa daerah, banyak rumah kehilangan daya akibat pohon tumbang yang merusak sejumlah tiang listrik.

Media ORF melaporkan seorang pria berusia 78 tahun terluka parah saat terjatuh dari atap rumahnya di Turrach, Austria. 

Senin kemarin, 11 orang asal Jerman diselamatkan tim pendaki di sebuah kabin dekat Salzburg. Kesebelas orang itu terjebak tanpa listrik dan hanya memiliki sedikit makanan sejak Jumat pekan kemarin.

Sejumlah orang lainnya dilaporkan tewas di tengah cuaca ekstrem di Swiss, Austria dan Jerman. Otoritas Eropa mengingatkan kondisi cuaca saat ini rentan memicu salju longsor.

(WIL)

Bandara London Kembali Terganggu oleh Penerbangan Drone

Aktivitas di Bandara Heathrow, London, Inggris, 19 Desember 2019. (Foto: AFP/POOL/NIKLAS HALLE’N)

London: Aktivitas Bandara Heathrow di London, Inggris, kembali terganggu oleh penerbangan sebuah pesawat tanpa awak atau drone. Akhir Desember tahun lalu, penampakan drone juga membuat Bandara Gatwick di London sempat ditutup untuk sementara waktu.

Selang satu jam, penerbangan datang dan menuju Heathrow kembali dilanjutkan usai polisi menemukan sebuah drone yang memicu gangguan. 

Juru bicara Heathrow mengatakan penghentian sementara penerbangan merupakan “langkah antisipasi” untuk “mencegah adanya berbagai bentuk ancaman terhadap keselamatan operasional.” Heathrow mengaku berkoordinasi dengan Menara Pengawas Lalu Lintas Udara dan Kepolisian Metropolitan Inggris mengenai insiden ini.

“Kami terus mengawasi situasi terkini, dan meminta maaf kepada semua penumpang yang terkena imbas gangguan ini,” ujar jubir Heathrow, seperti dikutip dari laman BBC, Selasa 8 Januari 2019.

Baca: Diganggu Drone, Bandara di London Terpaksa Ditutup

Sebelum penerbangan di Heathrow dilanjutkan, Menteri Transportasi Inggris Chris Grayling mengatakan telah berkoordinasi dengan pihak bandara mengenai penampakan drone. Ia juga telah berbicara dengan Menteri Dalam Negeri dan Pertahanan.

Seorang juru kamera BBC, Martin Roberts, mengaku sempat melihat sebuah drone saat mengemudi dekat Heathrow pada Selasa, pukul 17.45 waktu setempat. “Saya dapat melihatnya, sekitar 90 meter di udara. Objek itu sangat terang, mengeluarkan cahaya merah dan hijau,” kata dia.

“Saya yakin itu drone dan bukan helikopter, karena benda semacam itu memancarkan sinar yang unik,” lanjut dia.

(WIL)

Rusia Tuduh Israel Ancam Penerbangan Sipil

Jet tempur Israel dianggap membahayakan penerbangan sipil Suriah. (Foto: AFP).

Moskow: Rusia bereaksi atas serangan Israel ke Suriah pada Selasa 25 Desember 2018. Kementerian Pertahanan Rusia menuduh jet tempur Israel menyerang pesawat sipil yang mendarat di Damaskus, Suriah dan Bandara Beirut, Lebanon.

Baca juga: Suriah Tembak ‘Target Musuh’ Dekat Damaskus.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengatakan,  enam jet tempur F-16 Israel menjatuhkan 16 bom udara GBU-39. 14 bom dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Suriah tetapi dua lainnya menghantam pusat logistik militer Suriah. Serangan itu melukai tiga orang prajurit.

“Tindakan provokatif Angkatan Udara Israel pada 25 Desember malam, ketika enam jet tempur F-16, saat di atas wilayah udara Lebanon dan menyerang Suriiah, telah menimbulkan ancaman langsung kepada dua penerbangan sipil,” ujar Konashenkov, seperti dikutip Anadolu, Kamis, 27 Desember 2018.

“Untuk mencegah tragedi, pengerahan sistem pertahanan udara Suriah dan sistem perang elektrik dibatasi. Hal tersebut memungkinkan pengatur lalu lintas udara Damaskus mengalihan pesawat sipil itu dari wilayah berbahaya dan mengirim pesawat itu ke Bandara Hmeimim,” imbuh Konashenkov.

Ini bukan pertama kalinya Israel melakukan tindakan serupa. Pada September, sebuah pesawat militer Rusia jenis Il-20 dihantam serangan sama dan menewaskan 15 prajurit di dalam pesawat.

Saat itu, pesawat jet F-16 milik Israel memasuki wilayah udara Suriah untuk menyerang target militer Suriah di Provinsi Latakia. Ketika sistem pertahanan udara Suriah merespons serangan, pesawat Israel bersembunyi di belakang pesawat Rusia yang kemudian ditembak rudal pertahanan Suriah.

Setelah peristiwa ini, Rusia yang menyalahkan Israel atas insiden, mengumumkan keputusannya menyediakan Damaskus dengan sistem pertahanan lebih canggih, S-300.

(FJR)

Hongaria Pindahkan Patung Pemberontak Imre Nagy

Patung Imre Nagy dianggap penting bagi warga Hongaria. (Foto: AFP)

Budapest: Otoritas Hongaria memindahkan patung Imre Nagy, seorang pahlawan pemberontakan anti-Soviet di era 1956, dari sebuah lapangan di pusat Budapest. Patung dipindahkan menjauh dari gedung parelemen ke Lapangan Jaszai Mari.

Sejumlah kritik menuduh pemerintahan nasionalis Perdana Menteri Viktor Orban berusaha merevisi sejarah negara dengan memindahkan patung. Seperti dilansir dari media BBC, Sabtu 29 Desember 2018, sebuah monumen berisi daftar korban rezim komunis di Hongaria akan menggantikan patung Nagy.

Imre Nagy dihukum gantung pada 1958 atas perannya dalam pemberontakan. Seorang komunis pro-reformasi, dia berusaha membebaskan Hongaria dari rezim komunis garis keras.

Namun pada 1956, pemberontakan Nagy dihancurkan oleh tank-tank Soviet. Sejumlah tokoh Hongaria pro Rusia kemudian menguasai Hongaria.

Patung Imre Nagy didirikan di Lapangan Martyr pada 1996. Pada 1989, Viktor Orban — yang saat itu adalah seorang aktivis anti-komunis — merayakan pemakaman kembali dan rehabilitasi Imre Nagy.

Tapi dalam beberapa tahun terakhir, Orban telah menjalin hubungan yang lebih erat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Putin adalah mantan petinggi agen intelijen KGB yang memulihkan simbol-simbol era-Soviet dan menyesalkan runtuhnya Uni Soviet.

Cucu Nagy, Katalin Janosi, adalah satu dari sejumlah orang yang menentang pemindahan patung. Media sosial Hongaria dipenuhi suara kecaman atas langkah terbaru Orban tersebut.

Sejumlah pendukung Orban mengatakan tujuan dari pemindahan adalah mengembalikan tampilan ibu kota seperti era sebelum Perang Dunia II saat komunis belum berkuasa.

(WIL)

Militan ISIS Asal Jerman Biarkan Bocah Mati Kehausan

Munich: Seorang wanita asal Jerman yang menjadi militan kelompok Islamic State (ISIS) diancam pasal pembunuhan karena membiarkan bocah perempuan berusia lima tahun mati kehausan di tengah terik matahari.

Wanita tersebut, diidentifikasi sebagai Jennifer W, bersama suaminya “membeli” bocah di kota Mosul, Irak, pada 2015. Jennifer dan suaminya yang merupakan militan ISIS menjadi bocah tersebut sebagai “budak” untuk bekerja di rumah.

Tim jaksa di kota Munich mengatakan suami Jennifer memasung bocah tersebut di luar rumah, dan istrinya tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Selain pembunuhan, Jennifer juga didakwa kepemilikan senjata api.

Jika terbukti bersalah, Jennifer dapat divonis hukuman penjara seumur hidup. Media lokal Jerman menyebut bocah yang tewas itu kemungkinan berasal dari etnis minoritas Yazidi.

Sejak ISIS berkuasa di Irak pada 2014, banyak Yazidi yang ditangkap dan dijadikan budak. ISIS juga kerap menjual para Yazidi itu kepada para anggota dan simpatisannya.

“Setelah bocah itu jatuh sakit dan mengompol di tempat tidur, suami terdakwa memasungnya di luar sebagai bentuk hukuman dan membiarkannya mati kehausan,” ucap tim jaksa di Pengadilan Munich, seperti dilansir dari kantor berita BBC, Sabtu 29 Desember 2018.

“Terdakwa diam saja saat suaminya berbuat demikian dan tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan sang bocah,” lanjutnya.

Jennifer W pergi ke Irak pada 2014. Di sana, ia menjadi polisi moral ala ISIS. Tim jaksa menyebut tugas Jennifer adalah memastikan semua wanita di Mosul mengikuti aturan ISIS.

Kepolisian Turki menangkap Jennifer beberapa bulan usai kematian bocah. Dia ditangkap saat mengunjungi Kedutaan Besar Jerman di Ankara untuk memperbarui paspor.

Dia kemudian diekstradisi ke Jerman, dan sempat diizinkan pulang ke Lower Saxony karena petugas kekurangan bukti untuk menjeratnya. Jennifer ditangkap di Jerman pada Juni lalu saat berusaha pergi ke Suriah.

Hingga saat ini tanggal persidangan Jennifer belum ditentukan.

(WIL)

Salju Longsor di Rusia Tewaskan 2 Orang, 3 Hilang

Lokasi terjadinya salju longsor di sebuah gunung di Swiss, 16 Mei 2018. (Foto: AFP)

Moskow: Sedikitnya dua orang tewas dan tujuh lainnya berhasil diselamatkan usai mereka semua terkena salju longsor di Khabarovsk, Rusia. Tiga orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Kantor berita TASS News Agency melaporkan bahwa total 12 orang terkena salju longsor di Mnogovershinny pada Sabtu 29 Desember 2018 pagi waktu setempat. Petugas penyelamat awalnya berhasil menemukan delapan orang, namun satu dari mereka meninggal dunia kemudian.

Pencarian dilanjutkan dan satu tambahan korban ditemukan dalam kondisi tewas, sementara tiga lainnya masih hilang.

Laporan media lokal menyebut sejumlah korban adalah bagian dari grup penyelamat yang hendak mencari seorang individu. Individu itu dilaporkan terkubur oleh salju longsor yang melanda sebelumnya.

Salju longsor kembali terjadi, dan mengenai tim penyelamat yang sedang berkumpul di sebuah bangunan.

“Grup beranggotakan 10 penyelamat pergi ke sana. Mereka adalah grup penyelamat dari perusahaan tambang emas. Salju longsor susulan terjadi dan menimbun mereka semua,” ujar beberapa pejabat lokal Khabarovsk.

Tim medis dikirim ke lokasi longsor terbaru, dan semua korban luka telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat.

(WIL)

Mobil Melaju Dekat Landasan, Bandara Hanover Ditutup

Insiden di Bandara Hanover, Jerman, Sabtu 29 Desember 2018, membuat banyak penerbangan ditunda. (Foto: AFP)

Hanover: Bandara Hanover ditutup selama beberapa jam setelah seorang pria mengemudikan mobilnya melewati pagar dan melaju menuju landasan pacu. Insiden terjadi pada Sabtu 29 Desember 2018, sekitar pukul 15.40 waktu Jerman.

Kepolisian Hanover mengatakan petugas berhasil menghentikan mobil, “menundukkan” pengemudi dan membawanya ke kantor polisi. Penerbangan dari dan menuju Bandara Hanover sempat dihentikan selama investigasi berlangsung. 

Aktivitas di bandara dilanjutkan seperti biasa pada malam hari, setelah aparat keamanan memastikan mobil tersebut tidak menimbulkan ancaman pada penerbangan. Insiden terjadi sepekan usai kepolisian Jerman mengumumkan tengah meningkatkan pengamanan di bandara atas kemungkinan adanya aksi teror.

Seperti dilansir dari laman BBC, polisi meyakini insiden di Bandara Hanover tidak terkait terorisme. Penyelidikan dilakukan dengan dugaan pengemudi mobil tersebut berada di bawah pengaruh narkotika.

Pengemudi tersebut, yang namanya tidak disebutkan, berhasil mengemudi melewati pagar pembatas dan bergerak menuju area parkir pesawat. Serangkaian foto dari pihak bandara memperlihatkan sebuah mobil dan petugas keamanan di dekat pesawat maskapai Aegean Airlines.

Mobil yang menerobos masuk dilaporkan memiliki pelat nomor asal Polandia. Namun informasi kewarganegaraan pengemudi belum diumumkan petugas.

Semua pesawat yang datang menuju Hanover dialihkan ke beberapa lokasi selama penutupan. Polisi mengatakan penerbangan di Hanover berlanjut pada pukul 20.00 malam waktu setempat.

Didatangi jutaan orang pada setiap tahunnya, Bandara Hanover berlokasi sekitar 11 kilometer dari pusat kota. Meski ramai, Hanover dianggap bukan bandara utama di Jerman.

(WIL)

Demonstrasi di Serbia Berlanjut, Presiden Didesak Mundur

Ribuan orang turun ke jalanan Belgrade, Serbia, 29 Desember 2018. (Foto: AFP)

Belgrade: Sekitar 25 ribu pengunjuk rasa turun ke jalanan dalam mendesak Presiden Aleksandar Vucic untuk mundur dari jabatannya. Ini merupakan unjuk rasa menentang pemerintah yang sudah memasuki pekan keempat di Serbia.

“Ini adalah demonstrasi rakyat terhadap situasi negara, yang secara ekonomi dan politik, berada dalam status kritis untuk waktu lama,” ucap seorang pengunjuk rasa bernama Vladimir Tosic dalam aksi di Belgrade, Sabtu 29 Desember.

Seperti dikutip dari kantor berita Guardian, Minggu 30 Desember 2018, unjuk rasa berjalan damai tanpa terjadi insiden. Simbol maupun gambar afiliasi politik juga tidak terlihat dalam aksi massa di tengah ibu kota ini.

Beberapa pedemo meneriakkan, “Vucic puncuri,” dan ada juga yang mengibarkan spanduk bertuliskan “sudah cukup atas kebohongan ini.” Banyak pula dari mereka yang meniup peluit, salah satu bentuk protes sejak tokoh Slobodan Milosevic berkuasa di Serbia era 1990-an.

“Vucic, seorang nasionalis garis keras yang kemudian melunak dan berintegrasi dengan Eropa, dituduh kubu oposisi telah menjalani kekuasaan otoriter dan menguasai sepenuhnya media.

Gelombang unjuk rasa ini merupakan tantangan terbesar bagi Vucic dalam kepemimpinannya sejauh ini. Oposisi ikut dalam aksi ini karena salah satu tokoh mereka dipukuli menjelang sebuah acara politik di Serbia pusat bulan lalu.

Merespons unjuk rasa pekan ini, Vucic mengaku “siap mendengarkan masyarakat yang berdemonstrasi, tapi tidak bagi para pembohong di kubu oposisi.” Sementara Parlemen Eropa meminta agar otoritas Serbia “meningkatkan kebebasan berekspresi dan media.”

(WIL)

Enam Orang Tewas dalam Kecelakaan Lalin di Siberia

Ilustrasi kecelakaan bus. (Foto: Medcom.id)

Khanty-Mansi: Sedikitnya enam orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas di wilayah Khanty-Mansi, Siberia. Mengutip seorang sumber tim medis, kantor berita TASS melaporkan, Sabtu 29 Desember 2018, bahwa 18 orang juga terluka dalam kecelakaan tersebut.

Diduga korban jiwa dapat terus bertambah karena dari 18 orang banyak yang berada dalam kondisi serius atau kritis.

Media lokal menyebut kecelakaan melibatkan sebuah bus milik perusahaan minyak Rosneft yang mengangkut sejumlah karyawan dengan dua truk, sebuah mobil dan satu van di jalan raya antara kota Tyumen dan Khanty-Mansi.

Kecelakaan terjadi di wilayah terpencil, sekitar 100 kilometer dari kota Nefteyugansk.

Siberia adalah area luas yang menjadi bagian dari Rusia modern. Maret lalu, sekitar 100 orang, termasuk puluhan anak-anak hilang dan dikhawatirkan meninggal dunia dalam kecelakaan di sebuah mal di Siberia barat.

Selang beberapa waktu, jumlah korban tewas kebakaran menjadi 56 orang, dengan sebagian besarnya adalah anak-anak.

(WIL)

Putin Sebut Rusia Terbuka untuk Berdialog dengan AS

Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: AFP)

Moskow: Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Rusia “terbuka untuk menggelar dialog” dengan Amerika Serikat. Ini merupakan bagian dari pesan di momen Natal dan Tahun Baru yang disampaikan Putin, salah satunya ditujukan kepada Presiden AS Donald Trump.

Selain kepada Trump, Putin juga menyampaikan ucapan Natal dan Tahun Baru kepada beberapa kepala negara dan pemerintahan.

“Dalam pesan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump di momen libur Natal dan Tahun Baru, Vladimir Putin menekankan bahwa hubungan Rusia-Amerika adalah faktor esensial dalam memastikan stabilitas strategis dan keamanan nasional,” ujar Kremlin, seperti dilansir dari kantor berita CNN, Minggu 30 Desember 2018.

“Putin juga mengonfirmasi bahwa Rusia terbuka untuk berdialog dengan AS dalam berbagai agenda,” lanjutnya.

Sebelumnya, Putin telah mengekspresikan keinginannya untuk bertemu Trump dalam konferensi pers akhir tahun pada 20 Desember. Namun dia kemudian mengatakan “tidak terlalu yakin apakah hal itu akan terwujud.”

Baca: Lima Fokus Pertemuan Trump-Putin di Finlandia

“Saya tidak tahu apakah pertemuan akan terjadi,” sebut Putin. “Dalam beberapa kesempatan, saya mengatakan saya siap bertemu. Kami memiliki berbagai isu untuk didiskusikan, termasuk agenda bilateral,” tambah dia.

Pernyataan Putin mengindikasikan bahwa pertemuannya dengan Trump akan sulit terwujud saat Partai Demokrat menguasai Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Januari mendatang.

“Kekuatan di Kongres (AS) berubah, dan saya yakin akan ada lebih banyak serangan kepada presiden. Apakah dia dapat berdialog langsung dengan Rusia akibat perubahan kekuatan itu, saya tidak tahu,” ungkap Putin.

(WIL)

Merkel Ingin Jerman Lebih Berperan di Level Global

Kanselir Jerman Angela Merkel (tengah) dalam sebuah acara di Berlin, 19 Desember 2018. (Foto: AFP/JOHN MACDOUGALL)

Berlin: Kanselir Angela Merkel bertekad menjadikan Jerman lebih berperan dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar di kancah internasional di tahun 2019. Hal tersebut disampaikan dalam pidato tahunan Kanselir Merkel di Berlin.

Merkel menyebut hal-hal mengenai kerja sama internasional “berada di bawah tekanan,” dan berpotensi membuat hubungan Jerman dengan negara adidaya Amerika Serikat menjadi renggang.

Tahun ini, Kanselir Merkel dan Presiden AS Donald Trump telah berselisih paham mengenai berbagai isu domestik dan luar negeri. Dalam setahun terakhir, Merkel adalah tokoh utama pembela multilateralisme, sementara Trump kukuh dengan kebijakan proteksionisme “America First.”

“Terkait dengan kepentingan dalam negeri, kita harus mengemban tanggung jawab lebih,” ujar Merkel, yang pidato tahunannya akan ditayangkan hari ini, Senin 31 Desember 2018, seperti dilansir dari laman BBC.

Dengan menduduki kursi sementara di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk 2019 dan 2020, Jerman disebut Merkel akan mendorong dilahirkannya sejumlah “solusi global.”

Hendak mundur dari jabatannya pada 2021, Merkel juga bertekad meningkatkan anggaran belanja Jerman untuk bantuan kemanusiaan dan pengembangan serta pertahanan. Dalam pidatonya, Merkel mengakui adanya perpecahan di dunia politik Jerman, dan ia mengajak semua warga untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama.

“Kita baru akan mengatasi berbagai tantangan jika bersatu dan bekerja sama,” sebut Merkel.

Tahun ini, Merkel berhasil mencegah jatuhnya pemerintahan koalisi Jerman atas isu sensitif keimigrasian. Sejumlah pihak menentang keputusan Merkel yang menerima lebih dari satu juta imigran dan pengungsi ke Jerman pada 2015.

Setelah partainya meraih hasil kurang maksimal dalam pemilihan umum regional tahun ini, Merkel mengumumkan dirinya akan mundur dari jabatan ketua, sebuah posisi yang sudah didudukinya selama 18 tahun.

(WIL)

Rusia Tahan Warga AS Terkait Aksi Mata-mata

Ilustrasi oleh Medcom.id.

Moskow: Dinas keamanan negara Rusia (FSB) mengatakan, Senin, telah menahan seorang warga negara Amerika Serikat atas dugaan aksi spionase di Moskow.

FSB mengatakan warga Amerika tersebut ditahan pada 28 Desember tapi tidak merinci soal dugaan spionase yang dikenakan terhadapnya.

Layanan berbahasa Inggris Kantor berita Rusia TASS menyebutkan nama warga Amerika itu sebagai Paul Whelan. Namun tidak dapat dipastikan secara independen kebenaran penyebutan nama warga AS tersebut.

Seperti dilansir dari Antara, Selasa 1 Januari 2019, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan kepada TASS bahwa tidak dapat memberikan keterangan rinci soal kasus tersebut. Pihak Rusia hanya menyatakan Kedutaan Besar AS di Moskow sudah dikabari.

Berdasarkan hukum yang berlaku di Rusia, aksi spionase bisa diganjar dengan hukuman penjara 10 hingga 20 tahun.

Pada awal Desember di sebuah pengadilan AS, warga negara Rusia Maria Butina menyatakan bersalah atas dakwaan melakukan persekongkolan. Maria mengaku bahwa ia bersekongkol dengan seorang pejabat tinggi Rusia untuk menyusup ke kelompok-kelompok pegiat konservatif Amerika sebagai agen untuk Moskow.

Pada Juli, jaksa khusus AS Robert Mueller mendakwa 12 petugas intelijen Rusia terkait peretasan terhadap jaringan komputer Partai Demokrat pada 2016.

Mueller pada Februari mengeluarkan dakwaan terhadap 13 warga Rusia dan tiga perusahaan Rusia sebagai bagian dari persekongkolan kejahatan dan spionase dengan target mengganggu pemilihan untuk mendukung Trump dan merugikan lawan Trump, Hillary Clinton. Rusia telah membantah mencampuri pemilihan tersebut sementara Trump membantah bersekongkol dengan Moskow.

Hubungan Rusia dengan Amerika Serikat memburuk ketika Moskow mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina pada 2014 serta Washington dan sekutu-sekutu Baratnya menerapkan berbagai sanksi terhadap para pejabat, perusahaan dan bank Rusia.

(FJR)

Bangunan Roboh di Rusia, Tujuh Warga Dilaporkan Tewas

Bangunan di Rusia yang roboh akibat ledakan gas. (Foto: AFP).

Moskow: Sebuah bangunan 10 lantai roboh di Kota Magnitogorsk, Rusia pada Senin 31 Desember 2018. Hingga saat ini korban tewas dilaporkan mencapai tujuh orang.

Insiden ini diketahui berasal dari ledakan saluran gas yang rusak di sekitar gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal tersebut. Menurut kantor berita TASS, sekitar 70 orang dilaporkan hilang dan proses pencarian masih dilakukan.

“Total 12 orang berhasil dikeluarkan dari puing bangunan. Tujuh dari yang dikeluarkan itu dikonfirmasi meninggal dan lima lainnya dirawat karena menderita luka-luka,” pernyataan Kementeri Keadaan Darurat Rusia, seperti dikutip ANI, Selasa, 1 Januari 2019.

Usai insiden, Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi lokasi di kota pertambangan di wilayah Chelyabinsk ini. Putin memerintahkan dibentuknya komisi penyelidikan ledakan.

“Kami akan membentuk komisi khusus dengan Kementerian Keadaan Darurat,” tutur Putin.

Setelah pertemuan Putin, penyelidikan kriminal dibuka atas dugaan pembunuhan atas dua atau lebih manusia.

(FJR)

Penikaman di Manchester, Tiga Orang Terluka

Polisi berjaga-jaga di Stasiun Kereta Manchester Victoria usai penikaman. (Foto: AFP)

Manchester: Setidaknya tiga orang terluka akibat penusukan yang terjadi pada malam pergantian tahun menuju 2019 di Manchester, Inggris.

Insiden ini terjadi di stasiun kereta Manchester Victoria sekitar pukul 21.00 malam waktu setempat, sebelum malam perayaan pergantian tahun. Seorang petugas polisi menjadi salah satu korban penusukan.

Tim anti-terorisme Inggris langsung menyelidiki kasus ini. Pelaku pun telah ditangkap dan ditahan untuk diselidiki lebih lanjut. Pelaku diketahui berusia 25 tahun, dikutip dari CNN, Rabu 2 Januari 2019. 

Penikaman ini terjadi di dekat area Manchester Arena, lokasi yang terkena serangan bom pada Mei 2017 lalu. Serangan itu menewaskan 22 orang. 

“Beruntung ada polisi di dekat peron dan dengan cepat langsung meringkus pelaku sebelum ada korban jiwa,” ujar saksi mata tersebut.

Sementara itu, dua korban lainnya mengalami luka-luka di tangan dan di wajah. Akibat adanya insiden ini, perayaan malam pergantian tahun di Albert Square dijaga ketat oleh kepolisian setempat. 

(WIL)

Bayi Berhasil Bertahan dari Gedung Roboh di Rusia

Bangunan di Rusia yang roboh akibat ledakan gas. (Foto: AFP).

Magnitogorsk: Tim penyelamat berhasil menolong bocah lelaki berusia 10 bulan hidup-hidup dari puing-puing ledakan gas di sebuah blok apartemen Rusia. Insiden itu menewaskan sedikitnya tujuh orang dan membuat puluhan orang dikhawatirkan terperangkap.

Baca juga: Bangunan Roboh di Rusia, Tujuh Warga Dilaporkan Tewas.

Pekerja darurat melawan waktu untuk menggali korban dari reruntuhan ledakan dengan suhu yang dipastikan turun serendah minus 24 derajat Celcius.

Anak tersebut diselamatkan dari lokasi, meskipun laporan menunjukkan bayi laki-laki itu terluka parah dan prospek kesembuhannya tidak jelas. Setelah ditarik dari puing-puing, seorang petugas medis segera menyuntikkan sesuatu kepada anak itu sebelum ia dibawa pergi dari lokasi kejadian.

Ledakan menyebabkan runtuhnya sebagian bangunan sembilan lantai di kota Magnitogorsk, Rusia selatan, tempat seruan minta tolong dilaporkan terdengar di bawah bangunan yang hancur.

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan perjalanan ke lokasi ledakan pada Senin dan mengunjungi korban terluka di rumah sakit. Menteri Situasi Darurat, Yevgeny Zinichev, mengatakan pada pertemuan dengan presiden Rusia bahwa mungkin antara 36 dan 40 orang di bawah puing-puing.

Pihak kementerian mengatakan, sekitar 110 orang tinggal di gedung. Para pejabat menjelaskan kemungkinan menemukan korban yang selamat semakin menipis seiring berlalunya hari.

“Kita harus bekerja secepat mungkin karena suhu tidak memberi kita waktu untuk berlama-lama,” kata Wakil Menteri Kedaruratan, Pavel Baryshev, seperti dikutip dari Sky News, Selasa 1 Januari 2019.

Kementerian darurat sebelumnya mengatakan bahwa lima korban berada di rumah sakit. Ledakan dilaporkan terjadi sekitar pukul 6.00 pagi waktu setempat, ketika banyak orang tidur pada hari libur nasional Rusia. Magnitogorsk adalah kota berpenduduk sekitar 400.000 jiwa berjarak lebih 1.000 kilometer dari Moskow.

Terjadi insiden serupa di Rusia dalam beberapa tahun terakhir karena infrastruktur yang lapuk dan keamanan yang buruk atas penggunaan gas. Pada 2015, setidaknya lima orang tewas ketika ledakan gas merusak sebuah gedung apartemen di kota Volgograd.

(FJR)