Macron Ingin Redam Rompi Kuning Lewat Debat Nasional

Seorang demonstran rompi kuning berdiri di samping spanduk bertuliskan pengunduran diri Macron di Le Mans, 13 Januari 2019. (Foto: AFP/JEAN-FRANCOIS MONIER)

Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron telah meluncurkan “debat nasional” untuk meredam gelombang aksi unjuk rasa ‘rompi kuning’ yang telah bergulir sejak November tahun lalu. Macron berharap konsultasi publik berskala nasional ini dapat meredam, atau bahkan menghentikan gerakan rompi kuning atau gilet jaunes secara damai.

Tekad Macron disampaikan lewat sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada seluruh masyarakat Prancis, yang akan diterbitkan di sejumlah media nasional pada Senin 14 Januari 2019.

Dalam surat tersebut, Macron mengaku terbuka menerima ide dan saran dari masyarakat. Namun ia menegaskan pemerintahan Prancis tidak akan membatalkan beberapa reformasi atau kebijakan yang sudah ditetapkan sejak pemilihan umum 2017.

“Tidak ada pertanyaan yang dilarang,” tulis Macron dalam surat tersebut, seperti dilansir dari kantor berita AFP

Baca: Macron Kecam Kekerasan Ekstrem Demonstran Rompi Kuning

“Kita tidak akan selalu setuju untuk semua hal. Tidak apa, itu normal. Itu adalah demokrasi. Tapi setidaknya kita akan menunjukkan bahwa kita adalah masyarakat yang tidak takut berbicara, bertukar pandangan dan berdebat. Mungkin saja nantinya kita akan menyepakati sesuatu,” lanjutnya.

Gelombang unjuk rasa rompi kuning masih berlanjut hingga sekarang, dan aksi terbaru terjadi pada Sabtu kemarin. Walau format pasti debat belum diketahui, intinya Macron ingin mengundang warga untuk memberikan pandangannya terhadap empat tema utama, yakni perpajakan, institusi negara, demokrasi dan kewarganegaraan.

Macron menyebut sejumlah proposal yang dikumpulkan dari warga nantinya akan dikumpulkan dan menjadi “kontrak baru bagi negara.” Kontrak itu disebut Macron dapat memengaruhi proses pengambilan kebijakan dan posisi Prancis dalam isu nasional dan internasional.

“Inilah yang saya ingin lakukan bersama Anda semua, untuk mengubah kemarahan menjadi solusi,” ungkap Macron di dalam surat.

(WIL)