Demonstrasi di Serbia Berlanjut, Presiden Didesak Mundur

Ribuan orang turun ke jalanan Belgrade, Serbia, 29 Desember 2018. (Foto: AFP)

Belgrade: Sekitar 25 ribu pengunjuk rasa turun ke jalanan dalam mendesak Presiden Aleksandar Vucic untuk mundur dari jabatannya. Ini merupakan unjuk rasa menentang pemerintah yang sudah memasuki pekan keempat di Serbia.

“Ini adalah demonstrasi rakyat terhadap situasi negara, yang secara ekonomi dan politik, berada dalam status kritis untuk waktu lama,” ucap seorang pengunjuk rasa bernama Vladimir Tosic dalam aksi di Belgrade, Sabtu 29 Desember.

Seperti dikutip dari kantor berita Guardian, Minggu 30 Desember 2018, unjuk rasa berjalan damai tanpa terjadi insiden. Simbol maupun gambar afiliasi politik juga tidak terlihat dalam aksi massa di tengah ibu kota ini.

Beberapa pedemo meneriakkan, “Vucic puncuri,” dan ada juga yang mengibarkan spanduk bertuliskan “sudah cukup atas kebohongan ini.” Banyak pula dari mereka yang meniup peluit, salah satu bentuk protes sejak tokoh Slobodan Milosevic berkuasa di Serbia era 1990-an.

“Vucic, seorang nasionalis garis keras yang kemudian melunak dan berintegrasi dengan Eropa, dituduh kubu oposisi telah menjalani kekuasaan otoriter dan menguasai sepenuhnya media.

Gelombang unjuk rasa ini merupakan tantangan terbesar bagi Vucic dalam kepemimpinannya sejauh ini. Oposisi ikut dalam aksi ini karena salah satu tokoh mereka dipukuli menjelang sebuah acara politik di Serbia pusat bulan lalu.

Merespons unjuk rasa pekan ini, Vucic mengaku “siap mendengarkan masyarakat yang berdemonstrasi, tapi tidak bagi para pembohong di kubu oposisi.” Sementara Parlemen Eropa meminta agar otoritas Serbia “meningkatkan kebebasan berekspresi dan media.”

(WIL)